Perang SIGI (1905-1908)
Di Lembah Palu terjadi perlawanan
yang dilakukan oleh seorang tokoh bernama Karanja Lembah atau Toi Dompo.
Awalnya, yang memegang tampuk pemerintahan sebagai raja adalah Daeng Masiri.
Namun, dalam segala hal yang penting, Toi Dompo-lah yang banyak didengar,
termasuk sikap terhadap Belanda.
Sejak awal, Toi Dompo atau
Kerajalembah sangat benci pada Belanda. Ia menyarankan pada raja-raja di lembah
Palu dan sekitarnya agar menolak kedatangan pemerintah Belanda di Sulawesi
Tengah. Pengaruh Kerajalembah tidak terbatas pada golongan raja saja, tetapi
juga berpengaruh dan dicintai oleh seluruh lapisan masyarakat. Sebenarnya, ia
juga masih keponakan dari Raja Daeng Masiri. Karena pengaruhnya yang besar dan
sikapnya yang keras pada Belanda, maka Belanda yang sudah menduduki
kerajaan-kerajaan pantai, seperti Kerajaan Palu, Kerajaan Parigi, Kerajaan
Banawa, dan Tawaeli bertekad menangkap dan membuang Kerajalembah alias Toi
Dompo ini.
Beliau mempunyai watak keras dan
sama sekali tidak mau mengadakan hubungan dengan Belanda. Bahkan, pada waktu
Kruijt dan Adriani mengadakan penelitian di wilayahnya (1897), Toi Dompo sudah
mulai curiga pada kedua orang itu dan tidak diizinkan lama-lama berada di
wilayah Sigi. Semua orang Barat tidak dipercayai dan dianggapnya datang untuk merampas
kemerdekaan dan kekuasaan kerajaan dan rakyatnya. Oleh karena itu, rakyat
dipersiapkan untuk melawan karena diketahuinya cepat atau lambat pasti serangan
Belanda akan datang.
Sebelum Belanda datang ke
wilayahnya, Kerajalembah pernah mengundang madika-madika Palu, Tawaeli, Parigi,
Kulawi dan Tojo (raja Kolomboi yang semuanya masih merupakan keluarganya), guna
mengadakan pertemuan membicarakan persoalan kedatangan Belanda. Dalam pertemuan
itu, Karajalembah memberikan satu putusan: “Kita jangan tunduk kepada Belanda
dan harus menentang mati-matian terhadapnya.” Karena sejak dari nenek moyang
kita, kita tak pernah melihat bangsa Belanda, apalagi datang memerintah di
wilayah kita”. Akan tetapi, ada yang membocorkan keputusan itu keluar
(melaporkan kepada Belanda).
Pada waktu Belanda menduduki
dengan kekerasan pantai penggaraman Talise, Kerajalembah turun dengan
pasukannya untuk mengusir pasukan Belanda itu, hingga terjadi pertempuran.
Kekuatan Belanda ketika itu kecil, sehingga mereka terpaksa mundur kembali ke
Donggala. Kebenciannya pada Belanda merembet pula sampai kepada
pengikut-pengikut kaki tangan Belanda. Karajalembah Toi Dompo menginstruksikan
pada rakyatnya jika perlu pengikut-pengikut Belanda dibunuh saja. Terlaksana
dengan pembunuhan seorang juru tulis yang bekerja pada Belanda di Tanaboa
(Parigi) serta merampas harta benda Belanda di Tanaboa. Juga terjadi pembunuhan
terhadap seorang opzichter (mandor jalan) di Bora.
Belanda merencanakan menyerbu
Sigi dari tiga arah, yakni dari Palu, Parigi, dan Poso. Untuk persiapan itu,
maka ketiga tempat itu dikuasainya lebih dahulu. Mengetahui kerajaan-kerajaan
Palu, Parigi, Donggala dan Tawaeli sudah jatuh ke tangan Belanda, maka Toi
Dompo menjadi sedih, tapi tekadnya tetap walau sendirian harus tetap melawan.
Untuk menyelidiki kekuatan Belanda di Loji Parigi, dikirimkannya kurir bernama
Palukota dan Mojo. Kurir ini berhasil kembali membawa lari seekor kuda pilihan
Belanda dan mengambil bintang jasa Vierde Kruis (bintang tanjung) dari
poshouder Belanda di Parigi yang bernama Ince Dahlan. Maksud pengambilan kuda
itu ialah agar Belanda terhalang mengadakan penyelidikan dan pengambilan
bintang jasa sebagai satu ajakan pada rakyat Parigi supaya bangkit melawan
Belanda.
Menghadapi sikap/tindakan Toi
Dompo ini, Belanda lalu menyiapkan pasukannya di Donggala, Parigi dan Poso.
Mereka yang dapat diperalatnya antara lain Inco Muhamad, Karaeng Putih,
Yojovuri, Mangge Cinco (Yahya), semuanya. tinggal di Palu dan Marakaili di
kampung Kalukubula. Mula-mula rencana Belanda untuk menangkap Toi Dompo dapat
dicegah oleh raja Tawaeli Jaelangkara alias Mangge Dompo karena ia menjadikan
dirinya sandera pada Belanda. Memang hanya Jaelangkara saja yang disegani oleh
Toi Dompo (Kerajalembah). Mereka berdua masih terpaut sebagai ipar. Namun
karena ternyata kemudian Jaelangkara pula yang membantu dan melindungi Malonda
(setelah berontak di Donggala), maka akhirnya Jaelangkara pun dicurigai Belanda
walaupun Tawaeli sudah dikuasainya. Jaelangkara, raja Rawaeli ini, akhirnya
dibunuh secara licik oleh kaki tangan Belanda ketika beliau memeriksa
perbatasan wilayahnya dengan perbatasan Wilayah Toli-Toli. Peristiwa ini
terjadi di pinggir pantai Baerumu (Sirenja) ketika ia kembali dari Toli-Toli.
Karena Belanda mencurigai terus
Toi Dompo Karajalembah, dikirimlah seorang kurir bernama Ince Muhamad ke
Watunonju tempat kediaman Toi Dompo, sambil membawa biji opium (candu) penebus
kuda yang diambil dari Parigi. Namun kuda-kuda kurir ini pun dirampas sehingga
terpaksa ia jalan kaki pulang ke Palu. Akibat dari ini semua, Belanda lalu
menyiapkan penangkapan terhadap Toi Dompo. Pasukan Belanda disiapkan dari Palu
dengan penunjuk jalan bernama Ince Muhamad, dibantu pula oleh sekutu-sekutunya
Karaeng Putih, Yojoburi, Mangge Cinco (Yahya) dan Marakaili. Dari Poso, pasukan
Belanda diberangkatkan ke Parigi lalu memotong gunung melalui Sausu tembus ke
Sigi dengan penunjuk jalan Ince Dahlan.
BACA JUGA GOR Madani Bergemuruh: FORKI Sigi Lahirkan
Bibit-Bibit Karateka Tangguh
Pemimpin pasukan Belanda adalah
Letnan S. Voskuil. Di tempat kediaman Toi Dompo di Watunonju, pasukan-pasukan
Belanda menyerang serentak ketika Toi Dompo belum begitu siap karena tak
menduga adanya serangan tiba-tiba ini. Terjadilah pertempuran sengit di Watunonju
sehingga beberapa orang pasukan dari kedua belah pihak jatuh sebagai korban.
Akan tetapi karena persenjataan yang tak seimbang, Toi Dompo akhirnya
tertangkap dan dibawa ke Palu dengan menyeberang kali Palu dari Kalukubula ke
Tinggede. Toi Dompo dipikul oleh Marakaili yang sudah diperalat Belanda dan
seterusnya ia dibawa ke Palu dimana tiga buah kapal Belanda telah dipersiapkan
untuk membawa Toi Dompo ke Jawa dan diasingkan ke Sukabumi.
Besoknya, pasukan Belanda datang
dengan perlengkapan yang lebih banyak. Seperti halnya pada penyerangan pertama,
Belanda diserang disaat mereka lagi istirahat. Walaupun hasil yang dicapai oleh
rakyat Sigi Bora tidak sebesar pada pertempuran pertama, tetapi Belanda dipukul
mundur lagi ke Watunonju. Di tempat inilah Belanda mendatangkan pasukan dari
Palu, Dolo sehingga perlawanan rakyat terpaksa mengundurkan diri ke gunung dan
hutan-hutan. Belanda lalu merubah siasat dengan menggunakan Pue Langa yang
tadinya ditawan Belanda, memerintahkan agar Pue Langa menyuruh rakyatnya
kembali dari gunung dan hutan-hutan dan mengadakan persahabatan dengan Belanda.
Pue Langa lalu dijadikan raja menggantikan kakaknya Karajalembah dan kelak
menandatangani korte verklaring pada tanggal 3 Desember 1908 dengan nama
Itondei. Karena patuh pada rajanya, rakyat menghentikan perlawanan.
Pue Langa (Itondei) (raja puteri)
didampingi Dewan Pitunggota dan Tadulakonya bernama Ponulele. Walaupun
kelihatannya Sigi sudah aman, tetapi sebenarnya keadaan masih belum aman
betul-betul. Karena rakyat sakit hati akibat rajanya dibuang, maka secara
diam-diam ada gerakan untuk mengadakan perlawanan pada Belanda, sering-sering
diadakan rapat gelap dipimpin oleh Mahasuri, Palarante dan Lamariapa. Hasil
rapat adalah tindakan mengacau keamanan. Hal ini sebenarnya diketahui oleh
Ponulele sebagai Tadulako, tetapi tidak dilaporkan karena secara diam-diam ia
setuju pada rencana itu. Oleh karena Pue Langa ternyata tak dapat mengatasi
keadaan (masih sering ada pengacauan terutama dari rakyat Lande Raranggonan)
maka akhirnya Belanda mengakui bahwa Karajalembahlah yang dapat mengatasi dan
menguasai rakyatnya. Ia lalu didatangkan dari Sukabumi pada tahun 1914 dan
dikembalikan menjadi raja Sigi. Ia disambut secara besar-besaran secara adat
oleh rakyatnya ketika kembali di Palu. Walaupun Toi Dompo sudah dikembalikan ke
Sigi, tetapi Belanda tetap mencurigainya sehingga langkah-langkah dan
perbuatannya tetap diawasi Belanda melalui Bestuur Assisten di Biromaru yang
pada waktu itu dijabat oleh Haji Sunusi. Memang ternyata Toi Dompo tidak
berubah pendiriannya terhadap Belanda walaupun ia telah diasingkan. Dalam
hubungan tersebut, A.C. Kruyt mencatat dalam bukunya berjudul De West Toradj’s
op Midden Celebes (halaman 98): “Peristiwa penyerangan ke Watunonju ini terjadi
pada hari Jumat bulan September 1905 jam 10.00 pagi” (terjemahan).
Mendengar ayahnya tertawan oleh
Belanda, maka putera dari Toi Dompo bersama Malasingi sangat marah dan dengan
parang terhunus ia menyerbu ke tengah-tengah pasukan Belanda hingga beberapa
orang tentara Belanda tewas dan luka-luka, tapi dia sendiri pun ikut gugur kena
berondongan tembakan.
Selain itu, rakyat Sigi segera
berkumpul dengan kelengkapan persenjataannya lalu mengadakan pengejaran
dipimpin oleh dua orang kemenakan Toi Dompo bernama Lamakarato (Putera
Jaelangkara dan Lamasatu). Pertempuran sengit terjadi di Kalukubula. Serangan
rakyat secara frontal menimbulkan korban yang cukup banyak di pihak Belanda.
Pasukan Belanda hanya dapat diselamatkan dengan bantuan tentara cadangannya
dari Palu.
Karena pembuangan atas diri Toi
Dompo ke Sukabumi, maka kemarahan rakyat makin bertambah. Dua utusan rakyat
Sigi masing-masing Pue Langa, saudara perempuan Toi Dompo Karajalembah, dan
Simbasigi Toma Intolipe. segera ke Palu mengadakan perundingan dengan Belanda supaya
Toi Dompo dapat dikembalikan ke Sigi. Ternyata dua utusan ini pun ditawan oleh
Belanda dan hanya dapat dibebaskan setelah ditebus 100 ekor kambing. Rakyat
Sigi dan Biromaru lalu merencanakan serangan umum terhadap Belanda di Palu,
tetapi hal ini tercium pula oleh Belanda. Belanda menyerang lebih dahulu ke
Bora, pusat pertahanan Sigi. Karena rakyat telah menduga kedatangan Belanda,
maka Bora dikosongkan; semua rakyat mengungsi ke gunung dan membuat kubu
pertahanan. Hanya delapan pemuda yang tinggal di kampung bersembunyi mengintai
gerakan Belanda. Melihat tak ada perlawanan, pasukan Belanda beristirahat di
Bantaya (rumah adat), tetapi sekonyong-konyong delapan pemuda tadi dipimpin
oleh Lasoso, Tuvaya dan Kanasoki menyerbu ke tengah pasukan Belanda yang sedang
istirahat sambil berseru memberi isyarat pada rakyat di gunung. Serangan ini
mengakibatkan kematian yang sangat banyak pada pasukan Belanda, termasuk
seorang komandannya tewas. Sisa pasukan Belanda lari ke Dolo. Akibat dari
pertempuran ini, rakyat menyingkir ke gunung karena diperhitungkan tentu
Belanda akan kembali lagi menyerang. Hanya dua pemuda pengintai yang tinggal di
kampung, masing-masing Langgo dan Runda dari Watunonju.
BACA JUGA Banjir Rendam Rumah Warga dan Rusak TK di
Sigi Biromaru
Rakyat Raranggonau yang tak mau
tunduk pada Belanda meninggalkan perkampungannya pada tahun 1916 menuju ke
pegunungan yang lebat “Manggalai” (kelak bernama Nyilalaki atau Nakilalaki).
Katanya mereka ke sana atas instruksi dari Toi Dompo yang pada satu pesta di Maenusi
Daerah Palolo pernah menyampaikan pesan pada pengikut-pengikutnya untuk
meninggalkan tempatnya/kampungnya karena Toi Dompo sendiri dalam tempo tak lama
akan bergabung dengan mereka.
Karena diketahui Belanda, Toi
Dompo memimpin lagi rakyatnya untuk berontak, kedua kalinya ia ditangkap dan
dibuang ke Sukabumi dan meninggal di sana pada tahun 1917.
Dibuangnya Karajalembah untuk
kedua kalinya tidaklah berarti bahwa perlawanan rakyat sudah berhenti.
Pemerintah Belanda lalu menyodorkan dua orang calon raja Sigi yaitu Simba Sigi
dan Pue Toi (Pue Langa atau Itondei). Dalam pemilihan ini sebenarnya dari segi
adat Samba Sigi yang berhak menjadi Raja sesuai silsilah keturunannya, tetapi
Pue Toi mengusulkan karena ia seorang wanita maka biarlah ia tetap jadi raja
dan Simba Sigi karena ia laki-laki bisa selalu tornei, menjadi Madika Malolo.
Usul ini diterima Belanda sehingga tetaplah Pue Toi menjadi raja puteri.
Gerakan yang pernah ada sebelum
Karajalembah dimulai lagi pada tahun 1914. Adanya gerakan-gerakan ini akhirnya
tercium juga oleh Belanda melalui mata-matanya sehingga Pue Toi dianggap
bersekongkol dengan saudaranya Karajalembah karena ia tidak menindak komplotan
yang mengacau itu. Akibatnya ia diturunkan dari tahtanya dan oleh Belanda
didudukkanlah Lamakarate seorang bangsawan dari Tawaeli (anak dari Jaelangkara)
yang juga kemenakan dari Karajalembah.
Di bawah Lamakarate keadaan dalam
negeri mulai agak aman. Tiga tokoh yang sering mengadakan rapat-rapat gelap
untuk mengorganisir tentara pada Belanda ditangkap dan dibuang ke Jawa. Dua
orang meninggal di pembuangan yaitu Lamariapa dan Mahasuri. Palarante sempat
pulang ke Biromaru sesudah habis hukumannya. Dengan tertangkapnya tiga tokoh
tadi maka keadaan mulai tenang, tetapi rakyat Lando (Raranggonau) masih tetap
tak mau takluk pada Belanda.
Raja Lamakarate mengirim dua
utusan ke Lando Marajati dan Sampale untuk menyampaikan pesan supaya Lando
menghentikan sikapnya yang membangkang itu. Jawaban Tadulako Lando: “Kami tidak
mau tunduk pada Belanda” ditambah pula dengan ucapan “Maloi maputi ratarima
kami” (“Merah putih kami terima”). Makna ucapan ini, biar darah mengalir pada
titik terakhir rakyat Lando tidak akan tunduk kepada pemerintahan Belanda.
Namun kedua utusan itu tetap memaksakan kehendaknya supaya rakyat Lando merobah
sikapnya.
Kedua utusan diserang oleh
Tadulako Lando hingga Marajati terbunuh dan Sampale meloloskan diri melapor
pada raja. Tadulako Lando lalu membunyikan genderang perang. Karena peristiwa
ini tentara Belanda lalu menyerang Lando disambut rakyat Lando yang sudah siap.
Terjadilah perang tanding di mana Belanda menderita banyak kekalahan kena
sumpit wila, tombak dan guma. Sebaliknya di pihak Lando pun banyak yang gugur
kena tembakan-tembakan Belanda. Tadulako Lando yang terkenal waktu itu
Lahulemba, Tirolemba dan Toma Ipedi.
Peristiwa inilah yang dikenal
dengan nama perang Lando, dan lanjutan dari perlawanan Karajalembah (perang
Sigi). Sejak itulah orang-orang Raranggonau yang tidak mau tunduk kepada
Belanda masuk hutan gunung dan kemudian menjadi salah satu suku terasing di
Sulawesi Tengah.
Perang Kulawi (1904-1908).
Kerajaan Kulawi di bawah pimpinan
raja Intovoalangi yang lebih dikenal dengan panggilan Toma Itorengke juga
mempunyai sikap yang keras terhadap Belanda. Tiap kali Belanda berusaha
memasuki daerahnya selalu gagal karena perlawanan yang ketat dari rakyat.
Belanda lalu merencanakan
menyerang dengan persiapan yang seksama. Gerakan dari Palu ke Kulawi melewati
medan yang berliku-liku dan jurang-jurang yang dalam. Di tempat yang strategis
inilah rakyat Kulawi mengadakan penghadangan terhadap setiap kedatangan Belanda.
Sebelum menyerang, Belanda mengirim dua orang utusan untuk membujuk raja Kulawi
supaya menyerah saja pada Belanda, tak usah melawan. Utusan itu adalah
Lamarauna, raja Donggala, dan Yojokodi, raja Palu. Toma Itorengke menolak
mentah-mentah ajakan itu. Beliau merasa terhina dan kepada utusan ia katakan
bahwa ia sama sekali tidak mengizinkan Belanda menginjakkan kakinya di wilayah
Kulawi, dan kalau berani melanggarnya akan ditentangnya dengan kekerasan.
BACA JUGA Maling Kios di Sigi Babak Belur Diamuk Massa
Toi Torengke menduga Belanda
segera akan menyerang. Karena itu genderang tanda bahaya segera dibunyikan
sehingga panglima-panglima dan tentaranya lengkap dengan senjatanya siap sedia.
Yang dijadikan benteng pertahanan adalah gunung Momi. Menurut ceritera
orang-orang tua, tempat itu dilengkapi dengan 500 pucuk senjata api terdiri
dari meriam-meriam bermacam-macam ukuran serta senapan-senapan di samping
tombak, keris, guma (parang), sumpit dan onggokan batu-batu besar.
Tahun 1904, Belanda mulai memberangkatkan
tentara pilihannya dengan senjata-senjata yang serba lengkap menuju ke Kulawi.
Di Tuwa mereka berhenti untuk mengatur strategi penyerbuan, beberapa hari
kemudian mulailah diadakan penyerbuan disambut dengan tembakan meriam, sumpit,
panah dan gulingan batu-batu bagai hujan. Terpaksa Belanda mundur ke Tuwa
dengan membawa korban. Pertempuran itu berlangsung sampai tiga bulan.
Yang menjadi penunjuk jalan
Belanda adalah Ince Muhammad dari Palu. Dari dialah Belanda memperoleh
informasi bahwa ada jalan lain untuk menuju ke Kulawi, dan yang mengetahui
adalah Madika Tuwa, Jaraba. Mula-mula Jaraba menolak, tetapi karena disiksa,
antaranya dipanggang di atas api, maka terpaksalah ia memberitahukan jalan itu,
yaitu mengitari aliran sungai Miu kohulu tembus ke kampung Beteha di Kulawi.
Untuk mencegah kemungkinan musuh menempuh jalan tersebut, orang-orang Kulawi
semula merencanakan memperkuat pertahanan di Pedoa dengan mengirim 70 orang.
Akan tetapi pasukan Belanda yang telah diperkuat dengan bantuan dari Palu dan
Manado, setelah mendapat informasi adanya jalan lain ke Kulawi melalui sungai
Miu lalu mengirimkan pasukannya melalui jalan tersebut dan sebagai pancingan
supaya orang Kulawi tak curiga dikirim pula pasukan mengadakan serangan ke
gunung Momi. Akibat pancingan ini tak jadilah pasukan Kulawi dikirim memperkuat
pertahanan Pedoa sehingga tentara Belanda hanya menemui perlawanan tak berarti
sebelum masuk Kulawi dari belakang. Demikianlah pada tahun 1905, pasukan
Belanda berhasil tembus ke Kulawi dari arah belakang dan memanfaatkan suatu
tradisi di Kulawi, yaitu apabila musuh menaikkan bendera putih maka pertempuran
harus dihentikan. Sewaktu pasukan Belanda sampai di Mamo (Kulawi) dinaikkannya
bendera putih. Hal ini dapat dilihat dengan jelas dari istana raja yang
terletak di atas bukit yang bernama Lemo. Sebagai balasannya, raja Toi Torengke
menyuruh naikkan pula bendera putih dari kain kulit kayu (disebut Tobula).
Karena pertahanan Kulawi
dipusatkan di gunung Momi, maka Kulawi dapat dikatakan kosong waktu itu, bahkan
perempuan dan anak-anak disingkirkan ke Gimpu. Yang ada di istana waktu itu
hanya raja Toi Torengke dan Mekuasa. Mereka berdualah yang ditemui ketika kurir
Belanda tiba, yaitu masing-masing bernama Yojobula dan Yojovuri berasal dari
Palu.
Toi Torengke dipaksa menyerah dan
disuruh mengumpulkan rakyat dari gunung Momi. Kalau tidak, maka ia bersama
keluarganya akan dibunuh dan Kulawi akan dibakar habis. Karena ancaman ini, dan
melihat kenyataan pasukan Belanda sudah masuk Kulawi, maka terpaksalah Toi
Torengke memanggil rakyatnya pulang dari gunung Momi hingga perlawanan
berhenti. Setiba di Kulawi, para hulubalang Kulawi yang pulang dari gunung Momi
masih mau melawan, tetapi dicegah oleh raja untuk menghindari jatuhnya korban
yang lebih banyak. Dalam buku Meededeelingen van Afdeeling Bestuurzaken van
Binnenlandsch Bestuurs. seri A No. 3 dapat dibaca bahwa pada tanggal 30
Nopember 1908 Intowea Tomatorengke menandatangani korteverklaring. Karena jiwa
Tomatorengke yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda maka setelah terpaksa
menandatangani korteverklaring tersebut lalu mengundurkan diri sebagai raja dan
menunjuk kemenakannya bernama Tomampe menggantikannya menjalankan pemerintahan
di Kulawi. Tomatorengke meninggal dunia pada tanggal 21 Desember 1948 di Kulawi.
Disclaimer:
Sumber Tulisan pada artikel ini
diambil dari buku: “Sejarah Perlawanan Terhadap Kolonialisme Dan Imperialisme
Di Daerah Sulawesi Tengah”
Departemen Pendidikan Dan
Kebudayaan Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional
Proyek Inventarisasi Dan
Dokumentasi
Tim Penulis:
Masyhuddin Masyhuda
Ny. Nurhayati Nainggolan
Zohra Mahmud
Daeng Patiro Laintagon
May 11, 2025 | Labels: Kareba, Riwayat, Tutura | 0 Comments
BUOL SALING SAPA
SEJARAH BUOL
zaman kuno abad (1-1500 M)
kehidupan pemerintahan
kisah empat buah negeri
Zaman terdahulu, bahwa TILO Ombu
kilan pindah dari gunung Pogogul lalu menempati daratan ditepi sungai
yanag subur, dibawah pimpina datuknya
Donolangit. Tempat tersebut dibuka menjadi kebun. Kebun dalam bahasa buol
sisebut : GUA. Kemudain tempat tersebut diberi nama : GUAMONIAL.
Pertama-tama didirikan tiga
buah rumah yang disebut BOLRE TOTOYU,
Masing-masing untuk DONOLANGIT suami istri dan anak-anaknya. Setelah itu
masyarakat dibagi 4 keelompok dan masing-masing kelompok membuka daerah
baru.pada pemukiman yang baru ini mereka berkembang menjadi empat rumpun
masyarakat yang berdiri sendiri.
Setelah berjalan bebrapa waktu
lamanya seiring dengan berkembang biaknya penduduk,berdirilah empat buah negeri
dan mulai mengatur tata pemerintahan. Keempat buah negeri terseabut
masing-masing bersama : Negeri Biau,Tongon,Talaki, dan Bunobogu pemimpin masing-masing
bergelar TA MODOKA,dan diatas TA MODOKA
dari ke empat negeri itu adalah Donolangit sebagai pimpinan tertinggi
dengan gelar : TIKAYANGANO. Keempat
rumpun masyarakat sudah mengenal peradaban. Menurut perkiraan, ini
terjadi sekitar tahun 1000 M (buku mengenal buol toli-toli hal. 27).
Pemerintah dikendalikan dari
BLORE TOTOYU yang berpusat di Gua Monial. Selama dono langit masi hidup,rakyat
keempat buah negeri hidup rukun dan damai. Mereka hidup tolong menolong sebagi
satu keluarga besar.
Setelah dono langit wafat
kedudukanya diganti oleh : TAMODOKA dari negeri Biau atas perseaatujuan bersama
dari pimpinan ke empat negeri.
Dari kepemimpinanya keadaan mulai
berubah .masing-masing negeri jalan sendiri-sendiri. Kearjsama dan tolong
menolong mulai ditingalkan. Persaatua
makin rapuh, maka keempat negeri mulaikacau dan mundur. Pemimpin yang
baru ini bukanlah tokoh yang bijaksana dan berwibawa seperti Donolangit.
Pada tahun 1100 M, datang
serangan pasukan kerajaan Sigi. Kerajaan Sigi merupakan kerajaan di Lembah Palu
pada saat itu. Negeri Biau yang diserang pasukan Sigi tidak dapat bantuan dari
tiga negeri lainya yang takluk pada pasukan Sigi. Pimpinan ( TAMODOKA) negeri
Biau ditawan bersama sejumlah pengikutunya dan dibawa kenegri sigi. Jadi yang ditawan
dalam peperangan tersebut adalah raja negeri Biau, bukan raja Buol seperti
ditulis dalam beberapa buku sejarah sebelum ini (oleh karena pada pada masa
itu kerajaan buol terbentuk ). Dalam
sejarah kerajaan buol terbentuk karena
timbulnya kesadaran dari rakyat ke empat negeri untuk bersatu kembali,setelah
mengalami serangan bertubi-tubi dari pihak musuh. Serangan itu datangnya dari
kerajaan Sigi dan dari bajaklaut Magindano. Selama puluhan tahun bajak laut
mangindano merajalela di Buol raja ke empat negeri tidak bisa berbuat apa-apa
karena meraka tidak bersatu. Serangan Manginano tersebut antara lain tahun ±
1150 M dan ± 1200 M, dan beberapa kalai
pada masa-masa sesudah itu. Mereka juga menculik putri-putri Buol dibawa
kenegrinya.
Sebagian dari penyerang memilih
menetap di Buol. Terjadilah perkawinan diantara mereka dengan penduduk asli.
Disaamping itu terjadi pula perbauran budaya antara budaya Buol dengan budaya
Sigi/kaili dan antaara budaya Buol dan budaya Mangindano. Maka dalam adat
istiadan buol MOGUTU BWUIYAN dikenal adanya BWUIYAN KAILI yaitu adat leluhur
kaili dan BWUYIAN MANGINAO yaitu adat leluhur Mangindano. Karena adanya
serangan-serangan daari luar itulah kebanyakan pusat-pusat kerajaan buol dahulu
berada dipedalaman.
RAJA MANGAMU PEDIRI KERAJAAN BUOL
Rakyat negeri Biau sangat risau
ditinggalkan pimpinan yang ditawan oleh pasukan Sigi. Mereka bersama-sama
memohon kepada yang maha kuasa supaya diturunkan seorang raja untuk memimpin
mereka. Selang beberapa waktu lamanya atas kehendak Yang Maha Kuasa terjadi
angin tofan dan angn ribut. Setelah cuaca cerah kembali, rakyat negeri Biau
beramai-ramai pergi kegunug Pogogul. Mereka menemukan sepasang manusia.dari
rumpun Kayu BINDONU keluar seorang laki-laki mengaku bernama : Mangamu dan dari
Batu hitam yanng terbelah muncul seorang perempuan yang bernama : SAKILATO.
Mereka menjadi suami istri dan sangat dihormati oleh rakyat karena arif dan
bijaksana dan baik budi pekertinya. Atas kehendak rakyat, kemudian mangamu
diangkat menjadi Raja Biau pada tahun 1380 M. Dalam kepemimpinanya negeri
menjadi makmur dan aman. Kesejahtraan rakyat sangat diutamakan. Mengetahui hal
tersebut maka rakyat dari ketiga negeri sangat berhasrat untuk brgabung dengan
negeri Biau . secara bersama-sama wakil mereka menghadap raja Mangamu
menyampaikan semua maksudnya.
Raja Mangamu menyetujui. Keempat
buah negeri digabung menjadi satu,dalam bentuk sebuah kerajaan yang diberi nama
kerajaan Buol pada tahun 1400 M, dengan Mangamu sebagai Madika ( Raja ) sedangkan
ke tiga TAMODOKA dari negeri Tongon,Talaki dan Bunobogu masing-masing sebagai
raja muda. Dipemukiman Baru sudah terbentuk kampung-kampung yang masing-masing
dipimpin oleh seorang yang tertua dari mereka dengan gelar : TI KAPAYA NO
KAMBUNG . peradaban mulai maju dan berkembang. Masyarakat bersatu dalam
persekutuan hidup yang mempunyai pemimpin masing-masing tapi merasa satu
kesatuan yang dinamakan satu Suku bangsa Buol. Pemerintahan dikendalikan dari
BLORE OPATO = rumah empat.
Tugas pokok pemerintahan adalah
memajukan usaha-usaha untuk kesejahtraan rakyat. Persatuan dan kesatuan
digalang kembali terutama untuk membina keamanan dan pertahanan diri dari
serangan musuh. Rakyat harus hidup tentram, aman dan damai. Padawaktu itu
mereka sudah mengenal bercocok tanam. Tidak dapat lagi mengantungkan diri dari
bahan makana yang diambil dihutan seperti buah-buahan dan umbi-umbian,karena
makin lama makin habis.
Raja Mangamu nama lain : NDUBU I
dicintai rakyatnya ia memerintah pada tahun 1380-1430 M. Dalam sejarah buol
raja Mangamu diyakini sebagai pendiri kerajaan buol, mempersatukan rakyat Buol
dalam suatu kerajaan dan meletakan sasar-dasar pemerintahan yang pertama.
Menurut versi belanda dalam Buol
staat, bahwa raja Buol pertama adalah sultan EATO. Namun setelah diadakan
penelitian dan pengkajian yang mendalam tentang sejarah Buol, maka diyakini
raja buol Biau,Tongon,Talaki dan Bunobogu menjadi sebuah kerajaan yaitu
kerajaan BUOL. Dalam buku sejarah daerah sulawesi tengah tercatat pula nama
dari tiga raja muda yaitu :
DAI PARUNDU : dari negeri Tongon
PULILI BWUTA : dari negeri Talaki
UMAYA (UMAJAD) : dari negeri
Bunobogu
Mangamu mempunya tiga orang anak.
Anak pertama perempuan baernama : ANGGATI BONE,
yang lahir bersama Telur dalam
Gengamanya. Yang kedua lelaki bernama : ANOGU LRIPU dengan kembaranya SAMADA
(songkoraja) anak ketiga barnama : DAIBOLRE dengan kembaranya sebila keris
(sundang).
Sumber : DISINI
May 10, 2025 | Labels: Kareba, Riwayat, Tutura | 0 Comments
Sejarah Kerajaan BUOL
Sejarah Buol mulai dikenal secara
teratur sejak jaman pemerintahan NDUBU I dengan permaisurinya bernama SAKILATO
(sekitar 1380 M) dan selanjutnya digantikan oleh Anogu Rlipu sebagai Madika
yang kemudian memindahkan Pusat pemerintahan dari Guamonial ke Lamolan. Setelah
Anogu Rlipu meninggal dunia dan Dae Bole belum kembali maka Bokidu memutuskan
BATARALANGIT menjadi Madika (Raja) dengan gelar Madika Moputi atau Sultan Eato
dan diperkirakan Madika Moputi adalah Raja Buol yang pertama memeluk Agama
Islam dengan nama Muhammad Tahir Wazairuladhim Abdurahman dan meninggal pada
tahun 1003 H atau 1594 M.
Pengganti Madika Moputi adalah putra Dai Bole yaitu Pombang Rlipu yang diberi gelar Prins Yakut Kuntu Amas Raja Besar oleh Portugis. Setelah masa pemerintahan Pombang Rlipu yang terkenal adalah Sultan Pondu yang banyak melakukan perlawanan pada Portugis yang pada akhirnya tertangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1770. Sesudah Sultan Pondu, yang memerintah adalah Dinasti Mokoapat, yaitu : Sultan Undain, Datumimo (1804 – 1810), Mokoapat (1810 – 1818), Ndubu II, Takuloe, Datumula (1839 – 1843), Elam Siradjudin (1843 – 1857), Modeiyo (wakil 1857 – 1858), Lahadung (1858 – 1864), dilanjutkan oleh Dinasti Turumbu/Turungku yaitu : Turumbu / Turungku (1864 – 1890), Haji Patra Turungku (1890 – 1899), Datu Alam Turungku (1899 – 1914), Haji Akhmad Turungku (1914 – 1947), Mohammad Aminullah Turungku (1947 – 1997), Mahmud Aminullah Turungku (1997 – 2014), Safri Abdullah T. Turungku (2014 – sekarang)
Kabupaten Buol adalah salah satu kabupaten di Propinsi Sulawesi Tengah yang dibentuk berdasarkan Undang-undang RI Nomor 51 tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Buol, Morowali dan Banggai Kepulauan. Sebelumnya, pada pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT), Buol merupakan Daerah Swapraja yang tergabung dalam Daerah Gorontalo. Selanjutnya melalui Undang-Undang RI Nomor 29 Tahun 1959 gabungan Swapraja Tolitoli dan Swaparaja Buol menjadi Kabupaten Buol Tolitoli.
Sejak tanggal 16 Februari 1966 melalui Keputusan DPR-GR Propinsi Sulawesi Tengah Nomor: 1/DPR-GR/1966 tentang Pemekaran Sembilan Kabupaten Dalam wilayah Propinsi Sulawesi Tengah, Buol diusulkan sebagai Daerah Tingkat II / Kabupaten. Keinginan ini baru terealisir pada pada tahun 1999 atau 33 tahun kemudian dengan diresmikannya Pembentukan Kabupaten Buol tanggal 12 Oktober 1999. Ir. Abdul Karim Mbouw ditunjuk sebagai Pejabat Bupati melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor: 131.52-1146 tanggal 8 Oktober 1999. Oleh karena sakit beliau meninggal dunia pada tanggal 10 Februari 2000, maka Menteri Dalam Negeri berdasarkan Surat Menteri Dalam Negeri Nomor: 131.52081 mempercayakan Drs. A. Karim Hanggi sebagai Pejabat Bupati Buol yang Ke II. Bupati yang ke-III adalah Amran Batalipu periode 2007-2012 dan Bupati ke-IV adalah Amirudin Rauf (2012-sekarang).
Kabupaten Buol merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Sulawesi Tengah. Dalam peta Pulau Sulawesi, Kabupaten Buol nampak memanjang dari timur ke barat, terletak di sebelah utara garis khatulistiwa dalam koordinat 0,35 – 1,20 lintang utara dan 120 – 122,09 bujur timur, serta mempunyai batasbatas sebagai berikut : Sebelah Utara : Laut Sulawesi, Sebelah Timur : Kabupaten Gorontalo Utara, Sebelah Selatan : Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Parigi Moutong, dan Sebelah Barat : Kabupaten Tolitoli
Kabupaten Buol memiliki luas wilayah 4.043,57 km2. Wilayah kabupaten Buol terbagi kedalam 11 kecamatan, yaitu: Lakea, Biau, Karamat, Momunu, Tiloan, Bokat, Bukal, Bunobogu, Gadung, Paleleh dan Paleleh Barat. Kecamatan yang paling luas adalah Kecamatan Tiloan, yaitu sebesar 1.437,70 km2 atau sekitar 35,55 persen dari luas Kabupaten Buol. Kecamatan Momunu memliki luas kedua terbesar, yaitu 400,40 km2 atau 9,90 persen. Kecamatan Paleleh memiliki luas ketiga terbesar, yaitu 386,19 km2 atau 9,55 persen.
Ketinggian ibukota kecamatan dari permukaan laut di Kabupaten Buol berkisar antara 2-27 m diatas permukaan laut. Wilayah dengan letak paling dekat dengan permukaan laut adalah Kecamatan Paleleh yang berada 2 meter diatas permukaan laut. Sedangkan wilayah dengan letak paling tinggi adalah Kecamatan Tiloan yang terletak 27 meter diats permukaan laut. Jika dilihat dari letak ketinggiannya dari permukaan laut, wilayah Kabupaten Buol sebagian besar merupakan daerah dataran rendah, hal ini dikarenakan letak ibukota kecamatan yang terdapat di daerah pesisir pantai, kecuali untuk kecamatan Momunu, Tiloan dan Bukal yang terletak jauh dari pantai.
Suhu udara Kabupaten Buol pada tahun 2014 berkisar antara 21oC sampai 34oC dengan rata-rata suhu 27,1oC sepanjang tahunnya. Rata-rata kelembaban udara pada tahun 2014 lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 2013, yaitu dari 83,85% menjadi sebesar 84,33%. Curah hujan di suatu tempat antara lain dipengaruhi oleh keadaan geografi dan perputaran/ pertemuan arus udara. Pada musim hujan, angin bertiup agak menurun dibandingkan dengan keadaan angin pada musim kering. Pada tahun 2014 di Kabupaten Buol rata-rata kecepatan angin adalah 1009,8 knot. Curah hujan sepanjang tahun 2014 di lokasi stasiun pengamat Lalos Kabupaten Buol tercatat jumlah curah hujan sebesar 1802,9 mm. Sehingga rata-rata curah hujan sebesar 150,2 mm.
Kabupaten Buol sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Tolitoli yang kemudian dimekarkan menjadi kabupaten yang berdiri sendiri berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 51 tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Buol, Morowali, dan Banggai Kepulauan. Pada saat ini Kabupaten Buol mempunyai wilayah yang terdiri dari 11 kecamatan dan terdiri dari 7 kelurahan dan 303 daerah pedesaan.
Visi Pemerintah Kabupaten Buol merupakan gambaran kesuksesan yang ingin dicapai dalam kurun waktu 5 (lima) tahun kedepan yang disusun dengan memperhatikan visi RPJPD Provinsi Sulawesi Tengah dan Visi Kabupaten Buol Tahun 2025-2045 dan arah Pembangunan Nasional RPJMN Tahun 2025-2029. Dengan menyadari keberadaan seluruh potensi yang dimiliki, baik potensi sumber daya alam maupun potensi sumber daya manusia termasuk potensi sosial budaya dan sinergitas diantara berbagai sumber daya serta partisipasi aktif seluruh stakeholders dan elemen masyarakat Kabupaten Buol, maka Visi Pemerintah Kabupaten Buol Tahun 2025-2029 dirumuskan sebagai berikut : “BUOL AGAMIS, MAJU, SEJAHTERA, BERKEADILAN DAN BERDAYA SAING”
Dalam rangka mewujudkan Visi, maka Pemerintah Kabupaten Buol menetapkan serangkaian Misi Pembangunan yang bernilai strategis sebagai berikut :
1. Meningkatkan pengembangan sumber daya manusia berkualitas yang berlandaskan pada penguatan pendidikan, kesehatan, perekonomian masyarakat dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
2. Meningkatkan perekonomian yang
bertumpu pada pengelolaan dan pengembangan potensi sumber daya alam lokal serta
hilirisasi melalui sinergi fungsi-fungsi pertanian, perikanan, perkebunan,
pariwisata, perdagangan, pertambangan industri, dengan penekanan pada
peningkatan pendapatan masyarakat dan penciptaan lapangan kerja;
3. Meningkatkan kualitas
penyelenggaraan pemerintahan yang profesional, dinamis, dengan mengedepankan
prinsip good governance and clean government;
4. Meningkatkan layanan pendidikan,
keterampilan, peningkatan derajat kesehatan individu dan
masyarakat;Meningkatkan pemberdayaan masyarakat dan seluruh kekuatan ekonomi
daerah, terutama Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), Koperasi, serta Badan
Usaha Milik daerah, (BUMD), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) serta membangun dan
mengembangkan pasar bagi produk lokal;
5. Meningkatkan pelayanan
infrastruktur dan sarana – prasarana layanan dasar yang berkualitas dan ramah
lingkungan;
6. Memantapkan keamanan daerah,
tangguh, demokrasi substansial dan stabilitas ekonomi makro daerah.
Sumber : DISINI
May 10, 2025 | Labels: Kareba, Riwayat, Tutura | 0 Comments
Zaman Permulaan Magau dan Islam di Palu Tanah Kaili
Bagian IV
Zaman Permulaan Magau dan
Islam di Palu Tanah Kaili
Permulaan Magau
Pue Nggari berasal dari Vonggi
Kampung Topotara pada perbukitan bagian Timur Tanah Kaili. Di mana ada kuburan
Pue Mpoluku yang dikeramatkan. Dari kampung inilah lahir seorang putri yang
kawin dengan Magau dari Vau, tinggal di seberang sungai Kaili, Kampung Topo
Ledo.
Dua sejoli ini merupakan keluarga
pertama dari Magau yang membangun kota di Tanah Kaili. Saat itu Ada 4 Kampung
yaitu, Kampung Besusu, Siranindi, Baru dan Kampung Lere. Ke 4 Kampung yang
membentuk 1 Badan yang dikenal dengan “Patanggota”, terdiri dari 4 orang
menteri yang menjadikan Badan Eksekutif.
Pue Nggari terpilih sebagai Magau
I Kerajaan Kaili (Palu). Dalam susunan Pemerintahan Kaili, pemegang kekuasaan
tertinggi disebut Magau (Raja), kekuasaan bukan pada satu orang, disetujui
dipimpin oleh beberapa orang yang juga disebut Dewan Adat Patanggota,
ditambahkan dari 4 Kampung yang menghasilkan Kerajaan Kaili, masing-masing
disebut:
1. Punggava (Menteri Dalam Negeri)
2. Pabicara (Menteri Penerangan)
3. Baligau (Menteri Luar Negeri)
4. Galara (Menteri Kehakiman)
Kampung-kampung 4 anggota adalah:
1. Kampung Baru
2. Kampung Siranindi
3. Kampung Lere
4. Kampung Besusu
Untuk mengetahui lebih lanjut,
tugas dan fungsi Badan Pemerintahan Kerajaan (Swapraja) di Tanah Kaili, bagian
berikut (Bagian VI) akan dibahas lebih lanjut.
Diceritakan sebagai Pue Nggari
keturunan To Manuru (orang dari Kahyangan) dari sebelah Selatan Vatusampu yang
berasal dari puteri cantik, lahir dari (ikan) Timboro. Putri cantik ini kawin
dengan Sogomolomba, juga berasal dari To Manuru dan mendapat turunan 2 orang
laki-laki dan seorang perempuan. Perempuan bernama Sondilana, kawin dengan
Magau Tomene. Dan yang laki-laki masing-masing bernama Tondalabua dan
Payugarera.
Tondalabua kawin dengan Numanuru
Maroa dari lereng lereng. Masyarakat Kaili sebagian besar dari sini. Kemudian
Sondilana melahirkan seorang anak perempuan bernama Sondubuluva. Anak ini kemudian
kawin dengan Sompoa, dan seorang turunannnya perempuan, kawin dengan Madika
Kaili yang melahirkan 3 anak perempuan masing-masing:
1. Werelemba kawin dengan Madika Loli
2. Jamapatida kawin dengan Pue Pegaro (Parigi)
3. Langgeva kawin dengan Madika Bakulu (Sigi)
dan seorang laki-laki bernama
Lawegasi Bodawa atau dikenal dengan “Pue Nggari”.
Di atas Lando dekat Kalinjo
(dipijakankan di atas Biromaru) sebuah pernyataan menceritrakan itu, ada
seorang laki-laki bernama Lasabulava yang dalam perjalanannya pergi berburu
memetik 2 lembar Teh Tava (daun teh), dan diganti. Disediakan air yang
dicelupkan Teh Tava, habis diminum oleh 2 dara cantik yang hadir dihadapannya.
Ia pun mengejutkan, dan berhasil membantah salah seorang dari antara. Yang
seorang menghilang seketika. Dari pertemuan itu, kemudian Lasabulava kawin
dengan dara cantiknya, dinamakan Tava Tea.
Di Lando tidak pernah mendapat
serangan dari To Mene. Orang Lando berubah kekalahan dan meninggal, Bunga
Bulava dipindahkan ke Tamatumpu dengan penggantian Tomperano disebelah Timur
sungai Palu (sebelah Kaleke). Disana ia memiliki keluarga besar.
Suatu hari, diceritakan orang di
kampung ini, mengambil sapi dari Magau Palu. Kemudian orang-orang Palu
bertarung dengan kekuatan dan jumlah yang besar. Bunga Bulava meninggalkan
kampung, melalui jalan tembus ke Bulunti. Di tengah jalan, Bunga Bulava ingin
melahirkan anak dan ia pun duduk di atas batu dekat telaga kecil. Batu itu
sekarang masih ada yang disebut Vatu Mpoana. Bayi yang diberikan Bunga Bulava
dimandikan di telaga kecil, dan setelah diberi nama besar Pue Mputi.
Kemudian seorang pengikut Pue
Nggari, jatuh hati pada Pue Mputi yang kemudian menculiknya di sebuah tempat
permandian dan dibawanya ke Palu. Pasukan pendukung Pue Mputi sebanyak 1000
orang kembali, datang ke Palu untuk mengambil Pue Mputi kembali. Akan tetapi
dalam perjalanan pasukan itu, tepat di Kampung Siranindi mereka menjumpai
barisan anak-anak gadis dalam jumlah besar, mempersembahkan Siri-Pinang pada
mereka. Para misi mengatur senjatanya dan berembuk guna mencapai maksud dan
tujuan, menikahkan Pue Mputi dengan Pue Nggari. Maksudnya pun terkabul.
Akhirnya Pue Mputi dan Pue Nggari, menjadi Magau di Palu. Mereka mendirikan 2
rumah, masing-masing di Kampung Tangga Banggo dan di Kampung Besusu. Rumah di
Kampung Besusu habis terbakar, Pue Mputi dan Pue Nggari pun tinggal di
Perumahan di Tangga Banggo, Siranindi.
Pue diterima dari Vonggi. Pada
bagian Timur perbatasan, ada makam Magau zaman dulu kala, bernama Pue Mpoluku.
Sekarang, dimakam Pue Mpoluku orang banyak memberikan sesajen, melepas nazar
dengan harapan untuk diberikan kemenangan.
Pada salah satu pusat
perkampungannya, bermukim 'orang' yang disebut Topotara. Dalam sebuah
pernyataan yang menyatakan, didaerah ini di sini adalah seorang wanita cantik
yang kawin dengan Mbosi, seorang Madika dari Vau yang tinggal di seberang
sungai Palu. Dari pasangan inilah yang menurut riwayat, menjadi keluarga
pertama turunan magau-magau di Palu.
Diriwayatkan kembali Pue Nggari
berasal dari satu rumpun bambu yang bernama Palu. Mungkin asal dari kata
inilah, tempat dimana Palu dinamakan. Ceritra tentang hal ini, bertentangan
dengan riwayat lain yang menyatakan bahwa Pue Nggari berasal dari satu
keturunan pada zaman purba. Tidak disebutkan nama turunannya zaman ini, yang
jelas pasangan suami istri zaman purba.
Masyarakat Kampung Limboro di
bawah Pue Nggari ke sebuah pertahanan baru. Dari bagian Barat, utamanya
masyarakat Kampung Bente-Lewo di Pegunungan Ulayo, diberangkatkan ke tempat
rendah, membentuk Kampung Pogego pada sebalah Barat rumah Magau Palu ini.
Dari Pue Mputi diriwayatkan lagi
sebagai berikut : Pamannya bernama Baligau yang tinggal di Lando Pegunungan.
Pada suatu hari masyarakat mengadakan pesta besar di Bone, dekat Tatanga. Pue
Mputi dan keluarganya ikut hadir di pesta itu. Di kesempatan ini, Pue Mputi
masuk diarena Rego. Ia begitu asyik morego (tarian melingkar), hingga anaknya
yang sedang menagis tak dihiraukannya. Suaminya (Pue Nggari) marah,
mencaci-maki, ketika melihat anaknya sedang menangis. Makian Pue Nggari pada
istrinya Pue Mputi berbunyi : Sola Pale ….! (kudis tangan). Pue Mputi mendengar
makian suaminya itu, ia merasa malu bercampur kesal, kemudian melompat ke
sungai menghanyutkan dirinya ke laut. Masyarakat sekitarnya berusaha menolong
Pue Mputi, mengikuti dengan perahu. Pue Mputi terbawa timbul tenggelam di
permukaan air. Ketika masyarakat hendak menolongnya, ia pun menghilang
seketika. Akhirnya, disepanjang aliran sungai dibuat pejagaan-penjagaan, agar
Pue Mputi dapat ditemukan kembali.
Kodi Palo (Lamakaraka) digantikan
cucu perempuannya sebagai Magau, bernama Tandapoa, anak dari Suralemba.
Tandapoa kawin dengan Tawagau dari Boya Tonggo, sebuah tempat yang terletak di
dekat Palu. Seorang anak perempuannya, Dei, kawin dengan Madika Lero, saudara
dari Suralemba.
Silsilah Magau Biromaru dan Palu
menurut M.T. Abdullah dalam bukunya Mengenal Tanah Kaili, menggambarkan dalam
skema seperti ditampilkan pada halaman berikut :
SILSILAH RAJA BIROMARU DAN PALU
Mangumpulemba () kawin Dei Intorolanda ()
Madika Pevunu Magau
Biromaru
Pue
Endjola () kawin Datomaria
()
Madika
Pevunu Madika Palu
Lamakaraka/Tondatedayo ()
kawin Sitimanuru ()
Magau Palu Madika Labua
Suralemba
() kawin Deidonggala ()
Yodjokodi
()
Magau
Palu
Parampasi ()kawinHi. Indocenni Parausi ()…? Idjasa()kawinImpero()
Magau Palu Pettalolo() Magau
Palu Madika Labua
Baso Parenrengi () Baso ()
Andi Wawo () kawin Djanggola ()
Andi Tjatjo () Itei
()
Adri Tangkau () Djuri
()
Andi Wali () kawin Todi ()
Andi Tase () Todji
()
Anri Turu ()
Anri Ratu () kawin Tjatjo Idjasa()
Magau Palu
Andirotja Dj. ()
Andibarun Dj. ()
Djamarro Dj. ()
Setelah mempertimbangkan di atas,
dapat diterbitkan kemudian tentang silsilah Magau Palu menurut Alb. C. Kruyt
dan MT Abdullah yang diterima sebagai berikut:
SKEMA SINGKAT SILSILAH MAGAU PALU
Pue Nggari / Lawegasi Budawa ()
kawin Pue Mputi ()
Magau Palu I Vatu Mpoana
Tuvunjamaya
() kawin Lemba ()
Daelandi
() kawin Masigo ()
Pue
Balu ()
Lamakaraka / Tondatedayo ()
kawin Sitimanuru ()
Magau Palu Madika Labua
Lapatau
() kawin…?
Suralemba
() kawin Deidonggala ()
Tandapoa
()
Mangge
Irisa ()
Magau
Palu ------- digantikan --------!
Yodjokodi
()
Magau
Palu
Parampasi () kawinHi.
Indocenni Parausi () ...? Idjasa () kawinImpero ()
Magau Palu Pettalolo () Magau Palu Madika Labua
Baso Parenrengi () Baso ()
Andi Wawo () kawin
Djanggola ()
Andi Tjatjo () Itei
()
Adri Tangkau () Djuri
()
Andi Wali () kawin Todi ()
Andi Tase () Todji
()
Anri Turu ()
Anri Ratu () kawin Tjatjo Idjasa ()
Magau Palu
Andirotja Dj. ()
Andibarun Dj. ()
Djamarro Dj. ()
Pue Nggari kawin dengan Pue Mputi
dan memiliki 3 anak perempuan, masing-masing:
Sebuah. Tuvunjamaya kawin dengan Lemba dari Tatanga;
b. Pue Balu tidak kawin;
c. Daelani kawin dengan Masigo dari Tatanga, mengirim Magau
Kodi Palo (Lamakaraka) yang kawin dengan Madika Labua Sitimanuru dan memiliki 2
anak yaitu Lapatau dan Suralemba sebagai Magau. Ia menerima turunan 2 laki-laki
yang bernama Tandapoa dan Mangge Risa (Magau Moili 1897). Sesudah Mangge Risa,
kemudian digantikan Yodjokodi (Toma Isima) yang kawin dengan anak Magau Bugis
di Palu. Sesudah dia bertemu, melahirkan Parampasi yang menjadi Magau Palu dan
memiliki 2 saudara laki-laki yaitu Pariusi dan Idjasa dan juga menjadi Magau
Palu. Parampasi kawin dengan Hai. Indocenni Pettalolo, memiliki 4 anak
perempuan dan 4 anak laki-laki. Anak perempuannya masing-masing bernama Andi
Wali, Andi Tase, Anri Turu dan Anri Ratu. Sementara anak laki-laki bernama
Basoparenrengi, Andi Wawo, Andi Tjatjo dan Adri Tangkau. Andi Ratu kawin dengan
anak Pariusi bernama Janggola (Magau Palu) dan Adri Wali juga kawin dengan anak
Pariusi. Dari Pariusi diterima memiliki masing-masing perempuan bernama Besso,
Itei, Djuri, Todi dan Todji. Anak laki-laki bernama Djanggola yang menjadi
Magau Palu. Sedang Magau Palu Idjasa kawin dengan Madika Labua Impero, memiliki
anak yang juga menjadi Magau Palu bernama Tjatjo Idjasa.
Pada tanggal 6 Mei 1950 jam 7
pagi, bertindak sebagai pucuk Pimpinan BKR yang terdiri dari 3 Kerajaan yaitu
Palu, Sigi Dolo dan Kulavi semua orang bertemu dengannya, memproklamirkan
dengan ini telah meluncurkan diri dari Negara Indonesia Timur (NIT) dan
bepergian sendiri dengan Republik Indonesia.
Silsilah dari Banua Mbaso (Banua
Oge) di Kampung Lere yang dibangun oleh Yodjokodi sebagaimana dimaksud, Magau
Kodi Palo (Lamakaraka) kawin dengan Dei Janggola dari Limuinta, memiliki 4 anak
masing-masing bernama: Suralemba, Padundu, Yodjokodi dan Bidadari. Limuinta
menanggapi bersaudara dengan Lapatau. Sedangkan Suralemba bersaudara dengan
Daeng Maroca dan Wanga. Suralemba kawin di Labua. Dari Daeng Langi memiliki 5
orang anak.
Dalam silsilah Kruyt dikatakan,
Suralemba mempunyai 2 anak yaitu Tandapoa dan Mangge Irisa (Magau Moili) yang
kemudian digantikan oleh Yodjokodi (Toma
Isima). Menurut silsilah dari M. Dj. Abdullah bahwa, Yodjokodi anak dari
Suralemba dan Dei Janggola. Sedangkan dalam silsilah Banua Oge, Suralemba
bersaudara dengan Yodjokodi. Ke tiga silsilah yang telah diuraikan itu, yang
berbeda adalah turunan sebelum Yodjokodi dan mengenai Pue Bongo (Panjuroro)
anak dari Ralawa Magau Bangga dalam silsilah Banua Oge.
Ralawa kawin dengan Yenda,
menurut M. Dj. Abdullah dikatakan kawin dengan Madika Palu Gilimare, sedang
Yenda (Yenda Bulava) anaknya Ralawa.
Demikian dalam tulisan ini,
ditemukan pendapat sementara bahwa Daelani adalah Daeng Malino, dan Masigo
adalah Malasigi yang menjadi turunan dari Lamakarata, mempunyai anak Yodjokodi
dari istrinya Lumeinta dan Magau Moili anak dari istri pertamanya, Dei
Janggola.
Dari silsilah Besusu Palu,
ditulis oleh Nasarudin Pakedo menjelaskan bahwa, Pue Nggari (bukan Pue Nggori =
menurut Alb.C. Kruyt) adalah turunan dari Lasamalongi dan Wua Pinano.
Selanjutnya tidak diperoleh data mengenai Magau pertama ini, kecuali dari Alb.
C. Kruyt seperti yang telah diuraikan di atas. Sedangkan dari silsilah Banua
Oge, Pue Nggari tidak terdapat atau tidak disinggung.
Pue Nggari hanya diceritakan
bahwa; Ia keturunan Manuru, sebelah Selatan Vatusampu dari seorang puteri
cantik yang lahir dari ikan Timboro. Putri cantik itu kawin dengan Sogomolombo
juga berasal dari To Manuru, mendapat turunan 2 anak laki-laki dan seorang
perempuan. Perempuan bernama Sondilana yang kawin dengan Magau Tomene, dan
laki-laki masing-masing bernama Tondalabua dan Payugarera.
Selanjutnya, Tondalabua kawin
dengan Numanuru Maroa dari Lere di pegunungan. Masyarakat Palu sebagian berasal
dari sini. Sandilana melahirkan seorang anak perempuan bernama Sondubulava yang
kemudian kawin dengan Sompoa, dan mendapatkan turunan yang kawin dengan Madika
Kaili. Salah seorang turunannya yang kawin dengan Madika ini, kemudian
melahirkan 3 anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Laki-laki itu bernama
“Pue Nggari“. Silsilah Pue Nggari dapat digambarkan pada halaman berikut :
Sogomolombo/To Manuru () kawin
Putri Manuru/Ikan Timboro ().
Sondilana () kawin Magau
Tomene ().
Tondalabua () kawin Numanuru
Maroa ()
Patugarera () kawin ….……………..
? ()
Sondubulava () kawin Sompoa
().
Madika Kaili () kawin ……………… ?
()
…………………? ()
…………………? ()
…………………? ()
Pue Nggari ()
Magau I Palu-Tanah Kaili
Pemegang Kerajaan Palu,
masing-masing sebagai berikut :
I. Pue Nggari
II. Pue Bongo
III. Lamakaraka/Kodi Palo/Tondatedayo
IV. Suralemba
V. Tandapua
VI. Magau Moili/Mangge Irisa
VII. Yodjokodi/Toma Isima (Magau Palu 10-2-1899)
VIII. Parampasi (Magau Palu/Kepala Distrik 12-10-1938)
IX. Janggola (Magau Palu 1938)
X. Tjatjo Idjasa (Magau Palu 14-2-1949)
XI. Andi Wawo Parampasi (1956 Kepala Swapraja Palu).
Masuk dan Berkembangnya Islam
Thomas W. Arnold dalam bukunya
“The Preaching of Islam” menulis bahwa, tahun 1540 tatkala pertama kalinya
Bangsa Portugis memasuki wilayah Sulawesi di Gowa Ibukota Kerajaan Makassar,
ditemukan hanya beberapa orang saja yang telah memeluk agama Islam. Kemudian
diceritakan bagaimana hebatnya persaingan antara dakwah Islam dengan misi
Kristen dalam merebut pengaruh di kerajaan-kerajaan wilayah ini.
Mulanya beberapa asli yang telah
mendapat pengaruh Kristen, diperkenalkan oleh Gubernur Maluku saat itu, Don
Antonio Galvano. Rakyat Gowa ingin
mendapatkan pegangan batin yang lebih mantap lagi. Olehnya, mereka mengajukan
permohonan untuk didatangkan guru-guru agama, baik itu Pendeta Kristen dari
Maluku maupun Ulama Islam dari Aceh. Mereka akan menentukan pilihan pada
kepercayaan agama yang lebih dulu tiba pada mereka.
Diceritakan, begitu menerima
permintaan rakyat Gowa, Raja Aceh langsung mengirimkan para Ulama menuju Makassar.
Akhirnya dalam waktu singkat, ulama-ulama Aceh menegakkan Islam dengan kokoh di
sana.
Para pendeta, beberapa waktu
kemudian tiba di sana. Meraka dengan susah payah ingin merebut kembali hati
rakyat untuk memeluk agama Kristen, namun upaya itu sia-sia. Rakyat Sulawesi
Selatan telah memutuskan memilihnya pada Agama Islam, yang tak mungkin akan
dirubahnya kembali.
Peristiwa itu terjadi pada awal
abad XVII, terjadi pada tahun 1603. Buya Hamka dalam tulisannya “Kebudayaan dan
Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Aceh”, di antara yang lain menyebutkan,
dengan restu dari Raja Aceh, pada awal abad XVII pergilah tiga orang mubaligh
dari pantai Padang Pariaman ke Makassar. Mereka adalah Dato Ri Tiro, Dato Ri
Bandang dan Dato Patimang.
Berdasarkan dua sumber di atas,
kita dapat menarik kesimpulan pada awal abad XVII memang ada rombongan mubaligh
atau ulama dari Aceh dan Minangkabau, datang ke wilayah Sulawesi meluncurkan
agama Islam.
Pembicaraan kita kembali ke Tanah
Kaili. Di Tanah Kaili (Kabupaten Donggala), ada 2 makam tua, masing-masing di
Kampung Lere Kecamatan Palu Barat termasuk makam Abdullah Raqie yang digelar
Dato Karama, dan di Kampung Parigimpu Kecamatan Parigi termasuk makam Dato
Mangaji.
Yang menarik di sini adalah
keberadaan kemiripan gelar yang disandang oleh ke dua tokoh yang dimakamkan di
Tanah Kaili, dengan gelar tokoh-tokoh yang datang ke Gowa pada awal abad XVII
(Datu Ri Tiro, Datu Ri Bandang dan Datu Patimang). Dapat dipastikan bahwa itu
adalah tiga tokoh yang berasal dari Minangkabau. Daerah di Sulawesi Selatan
yang menurut adatnya banyak menggunakan gelar “Datu” yang berinduk dari
penggunaan gelar “Datuk” di Minangkabau.
Penalaran kita, semakin ditopang
oleh orang-orang sekitar Kampung dimana Dato Karama dimakamkan, dipahami
sebagai turunan “Paranaka“ (istilah Kaili: “Peranakan”) dari Dato Karama.
Entahlah, yang jelas Dato Karama berasal dari Minangkabau Sumantra Barat.
Sekitar tahun 1603, Islam mulai
masuk dan berkembang pertama-tama melalui lingkungan kerajaan-kerajaan kecil di
Tanah Kaili. Di dalam penyebaranluaskan Islam, Dato Karama bersama rombongannya
antara lain Dato Ri Bandang, Dato Ri Tiro dan Dato Patimang yang akhirnya
meluas hingga ke seluruh wilayah Sulawesi Tengah.
Tahapan di atas menunjukkan
pembangunan Islam pada mulanya awal melalui pucuk pimpinan daerah yang kemudian
diikuti oleh rakyatnya.
Berkat ketekunan Dato Karama
bersama rombongannya menyebarkan Islam ke 4 Wilayah Kota Kaili, berhasil
menyambungkan Magau Kabonena bernama Pue Njidi untuk memeluk agama Islam. Hasil
ini diumumkan, dibuktikan dengan adu kesaktian menanamkan cabai antara Dato
Karama dengan Pue Njidi, yang dimenangkan oleh Dato Karama. Pue Njidi dan
seluruh rakyatnya, menerima kesaktian Dato Karama dan menyetujui juga menerima
tawaran yang disampaikan Dato Karama. Ajakan Dato Karama diterima oleh Pue
Njidi dan pengikut-pengikutnya, diikuti dengan pengucapan Dua Kalimat Syahadat,
dilanjutkan dengan pemasangan cap untuk Pue Njidi serta menanggalkan Pevo
(pakaian tradisi) bagi pengikut-pengikutnya.
Untuk Parigi dalam sebuah
kenyataan silsilah magau-magaunya, Magau yang diberi gelar Tonikota bersama
anaknya Magau Janggo, pertama memeluk agama Islam di Kerajaan ini, dibawa oleh
Dato Mangaji. Magau Janggo diberi nama Islam Makruf.
Gelar yang diberikan pada Dato
Mangaji diambil dari kebiasaan rakyat setempat melihat Dato ini gemar mengaji
dan mengajarkan mengaji (mangaji). Tidak ditemukan nama yang jelas. Apakah Dato
ini mempunyai nama dari salah seorang rombongan ; Dato Ri Bandang, Dato Ri Tiro
atau Dato Patimang ?
Kemudian menurut kisah para Totua
(orang tua), setelah Tonikota dan Magau Janggo memeluk agama Islam, mereka
menjadi Tona Baraka (pembawa berkah / sakti). Sekarang sampai sekarang
masyarakat sering berkhaul atau bernazar, sekiranya apa yang seharusnya
terkabul, mereka akan pergi ke makam Tonikota dan Magau Janggo untuk monjunusi
dayo (menyiram kubur sambil berdoa). Adapula yang masih percaya bahwa ia akan
terhindar dari malapetaka, jika mengucapakan mantra “O Pue, Tonikota Magau
Janggo, Tona Baraka, Tulungi Batuamu” (Wahai paduka, Tonikota dan Magau Janggo,
orang yang sakti, haraplah hambamu).
Meski apa yang dikisahkan para
Totua di atas bukan merupakan agama Islam, malah lolos syariat-syariatnya.
Namun, dari kenyataan itu membuktikan bahwa, mayoritas fanatisme yang
mendukungnya terhadap pengaruh Magau Islam pertama di Kerajaan Parigi itu,
membekas dalam sampai sekarang.
Setelah Dato Karama dan Dato
Mangaji, merintis masuknya Islam ke Tanah Kaili wafat, maka tugas dakwah Islamiyah
itu membuat para siswanya yang terdiri dari bangs bangsawan. Tugas mulia maju
dengan maju yang mendukung para pendatang dari Bugis Sulawesi Selatan.
Mereka memberikan metode membaca
Al-Qur'an (mangaji) yang antara lain metode mengevaluasinya menggunakan ejaan
Bugis. Sampai saat ini, metode ini masih banyak yang digunakan.
Selain itu, paham yang dibawa
oleh Karae-karae (Karaeng-karaeng), dikenal dengan nama Paha Nu Cikoa (Paham
dari Cikoang) yang berasal dari Takalar Sulawesi Selatan. Pada perayaan Maulid
Nabi selain dibacakan Mobarsanji (Barsanji), diminta pada pengikut paham
tersebut, mempersembahkan Sudaka (Sedekah) kepada para Karaeng atau turunannya.
Pada masa ini di Tanah Kaili dan
wilayah Sulawesi Tengah pada umumnya, Islam meningkatkan pertumbuhan dan
perkembangan. Penanaman Akhidah, Iman dan Taqwa tanpa disadari berlahan-tanaman
menimbulkan rasa persatuan yang akhirnya memupuk semangat berbangsa, yang
disatukan dengan semboyan "Habbul Wathan Minal Iman".
Masa inipun menurut Crawfurd :
“sukses yang telah dicapai itu sebagaian besar adalah berkat jasa para pedagang
yang mendapat tempat di hati rakyat, dimana mereka mempelajari bahasa rakyat
dan adat istiadat setempat, lalu secara perlahan-lahan meng-Islamkan
wanita-wanita yang mereka kawini serta orang-orang yang berhubungan erat dengan
perdagangannya. Jauh dari sifat mengasingkan diri, mereka sebaliknya larut
dalam masa rakyat sambil memanfaatkan keunggulan intelgenci dan peradabannya
untuk kepentingan dakwah, dengan kebijaksanaan meraka mengkompromikan ajaran
agama sesuai dengan kebutuhan rakyat“.
Demikian Islam semakin terpatri
disanubari rakyat Kaili, hingga disetiap kampung dibangun masjid-masjid yang
dijadikan pusat ibadah dan pendidikan rakyat setempat.
Oleh karena itu, Magau-magau
Kaili bersama Madikanya memberlakukan sistem Pemerintahan Kerajaan,
menyesuaikan dengan kehendak dan kebutuhan
hidup golongan rakyat yang mayoritas beragama Islam.
Umumnya, disamping Magau dan para
Menteri Kerajaan, diangkat pula seorang Pua-Kali (Tuan Qadhi) yang berwewenang
mengatur tata kehidupan rakyat berdasarkan syariat Islam.
Pada setiap Kampung yang dipimpin
oleh seorang Kepala Kampung, terdapat masjid yang pengurusannya diserahkan pada
Pareva (pegawai Syara). Adapun Pareva itu terdiri dari Pua Ima (Tuan Iman), Pua
Kate (Tuan Khatib), Pua Bila (Tuan Bilal) dan Pua Doja (Tuan Pelayan Masjid).
Pareva inilah yang mengurus dan mengatur hal-hal yang berhubungan dengan
masalah perkawinan, talak, rujuk, kematian, Podoa (Doa kematian) dan lain-lain,
diadakan oleh rakya kampung.
Dengan demikian, Kepala Kampung
dan Pua Ima merupakan Dwi Tunggalnya Kampung. Magau juga dijadikan “penguasa
agama”. Di sebuah Istana Kerajaan
didirikan masjid dilingkungannya, sebagai tempat Magau melakukan ibadah bersama
para pengikutnya. Disamping itu juga digunakan sebagai sarana penyampaian
pengumuman-pengumuman. Penentuan tanggal permulaan puasa (1 Ramadhan) dihitung
berdasarkan keputusan Magau yang dilihat dari Nopanaguntu Bula (Menembak
Bulan). Kebiasaan ini, dilakukan Magau di depan masjid dengan menyulut sepucuk
lela (meriam kuno), menandakan bahwa bulan sabit 1 Ramadhan telah terbit dikaki
langit.
Dari iraian di atas, dapat
memperjelas betapa kokohnya pengaruh Islam pada rakyat Tanah Kaili. Bahkan
telah menyatu ‘dalam sanubari rakyat’ yang takkan mungkin tergoyahkan oleh
siapapun, termasuk Belanda.
Rakyat Kaili menyadari bahwa,
mereka tak akan membiarkan lagi Belanda dengan leluasa memperbudaknya. Olehnya,
umat Islam diseluruh pelosok Tanah Kaili dibawah pimpinan magau-magaunya yang patriotik,
bertekad mengobarkan perlawanan sengit, jika Belanda tetap memaksakan misinya
pada rakyat Tanah Kaili Sulawesi Tengah.
Karena itu, sejarah tak hanya
mencacat semangat perlawanan Karanja Lembah (Tomai Dompo) ketika menjadi Madika
Malolo (Magau Mudah) Sigi Biromaru. Dengan gigih-berani menyulut api perlawanan
pada Belanda disekitar Tanah Kaili. Walaupun dalam perlawanan itu, kekuatan
tidak seimbang yang mengakibatkan Tomai Dompo ditangkap kemudian diasingkan ke
Sukabumi Jawa Barat, September 1905.
Untuk Magau Tinombo, Tombolututu
dalam perang di teluk Tomini, tampil didepan dengan semangat juang rakyat,
demikian gigihnya. Belanda hampir kewalahan, hingga mendatangkan bantuan kapal
perang “Jawa”, menggempur perjuangan rakyat pasukan Tombolotutu. Magau ini
akhirnya jatuh di medan perang sebagai Syuhada.
Di Parigi Magau Vinono bersama
puteranya, Hanusu berjuang pula dengan sengit perjuangan Belanda. Sumpahnya
termasyhur berbunyi: “mabula boga ri vana, pade meta mbaeva Balanda” (setelah
kera putih di rimbah, barulah berhenti melawan Belanda ”). Pada tahun 1905,
putra Magau Vinano, Hanusupun diambil yang kemudian dipindahkan ke Manado.
Magau gunung Bale bernama
Malonda, ikut berperang melawan Belanda di kota Donggala. Komandonya menggema
membelah angkasa, berbunyi: "Petimbemo ngana" (Pancungkanlah pedangmu
anak-anakku).
Singkat kata, Tanah Kaili baru
dikuasai Belanda pada tahun 1905. Kemudian untuk memperlemah kekuasaan
Magau-magaunya, diikatlah mereka dengan Korte Verklaring (Perjanjian Pendek).
Karena itu Belanda hanya mengakui 6 Kerajaan Islam hanya di Tanah Kaili, yaitu
kerajaan-kerajaan: Palu, Sigi-Dolo, Banava, Tavaeli, Parigi dan
Tinombo-Moutong. Kerajaan-Kerajaan itu tidak leluasa lagi mengatur, karena
bercampur tangan Belanda begitu besar ikut mendukung penggunaan politik 'adu
domba'nya.
Perjuangan umat Islam pada zaman
ini (sejak 1905), berganti Arah. Mereka tidak lagi bergantung dengan cara
menantang. Perlawanan lebih diarahkan pada pembinaan kader, mengorganisir
kekuatan masa depan dan pembangunan / pengembangan sarana pendidikan.
Ketika pimpinan pergerakan
Serikat Islam (SI) termasyhur, Hos Cokroaminoto tiba di Donggala dari
perhelatannya ke Manado. Maka di tahun 1920, Islam bangkit dengan kesadaran
nasionalnya, beramai-ramai membesarkan organisasi pergerakan SI.
Melihat kondisi ini, Belanda
merasa terancam kedudukannya, mereka pun segera melakukan penangkapan terhadap
beberapa tokoh-tokoh SI, antara lain Datu Pamusu Adri dari Dolo yang kemudian diasingkan ke
Ternate, Hi. Daeng Pawindu dari Palu yang kemudian diasingkan ke Sukamiskin
Bandung.
Pada tahun 1930, tepatnya tanggal
30 Juni, seorang Ulama Besar bernama Sayed Idrus Bin Salim Al Djufri yang oleh
pendukungnya dikenal dengan nama Guru Tua, mendirikan sebuah organisasi dakwah
Islam berpusat di Palu yakni Alkhairaat, yang pada perkembangannya sekarang
menjadi salah satu pusat pendidikan, pengajaran dan penyebaran Islam terbesar
di Kawasan Timur Indonesia.
Pada tahun 1932 organisasi
Muhammadiyah kemudian didirikan dan berkembang di Donggala, Vani dan Parigi.
Buya Hamka sendiri dalam usia yang relatif muda, pernah datang dan tinggal di
Donggala sebagai mubaliq/guru Muhammadiyah. Sedangkan Raden Hi. Umar Effendi di
dampingi istrinya Musiah, datang dari Yogyakarta ke Parigi dan menjadi guru
Muhammadiyah dan Aisiyah di daerah ini.
Selain itu Serikat Islam (SI),
juga tidak ketinggalan dalam usaha pembentukan umat yang patriotik, melalui
bidang pendidikan. Pada tahun 1933 didirikan Islamiyah School di Donggala,
dipimpin oleh 2 orang mubaliq asal Minangkabau bernama Baharuddin dan
Jamaluddin Datuk Tumenggung.
Demikian Islam terus berkembang
di Tanah Kaili-Lembah Palu sekarang, dengan sarana dan prasarana pendidikan
seperti Sekolah Madrasah, Sekolah Umum mulai Taman Kanak-Kanak sampai pada
tingkat Perguruan Tinggi. Baik Negeri maupun Swasta.
Menyikapi Khasanah Lama.
Adalah menarik kompilasi Museum
Negeri Provinsi Sulawesi Tengah, membuka forum diskusi yang disetujui dengan
memilih salah satu barang koleksinya yang pantas untuk diperbesar dan
diperbincangkan, sebagai usaha yang lebih meningkatkan sejarah masuk dan
mengembangkannya Islam di Tanah Kaili. Barang sejarah yang dipamerkan itu
terdiri dari Kitab Kuning tebal beraksara Arab-Melayu (huruf Jawi), berjudul Al
Qur'anul Karim, Turjumanul Mustafid, Cetakan Ketiga tahun 1352 H (1934 M).
Menurut Keterangan, buku tersebut diperoleh dari keluarga yang bertempat
tinggal di Kampung Baru Kecamatan Palu Barat. Kitab tersebut diterjemahkan
dalam bahasa Indonesia oleh Abdurrauf bin Ali Al Fanshuri Al Jawi dari buku asli
Arab, karangan Abdullah bin Umar bin Muhammad Assyirazi Al Baidhawi, berjudul
Al Qur'anul Karim, Tafsir Anwarut Tanzil wa Asrarut Takwil.
Rinkes, sarjana Belanda dalam
disertasinya berjudul Abdurrauf Van Singkel, menyebutkan nama lengkap dia yaitu
Syeikh Aminuddin, Abdurrauf bin Ali Al Jawi, Taummal Fanahuri As Sinkily.
Sebutan kata 'Al Jawi' sebenarnya
telah diperkenalkan sebelumnya oleh Ibnu Bathuthah yang di dalam
pengembaraannya, pernah singgah di Sumatra pada tahun 1345. Sementara itu, kata
yang terkandung dalam kata 'Al Jawi' itu, telah disesuaikan dengan negara 'di
bawah angin' yang dibuka di Sumatra, Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Semenanjung
Tanah Melayu, Syahrun Nawi (Siam) dan Philipina. Karena itu jelaslah itu,
Abdurrauf adalah orang dari 'Negeri Bawah Angin'. Kemudian yang disetujui
dengan kata 'As Sinkily' berasal dari kata Sengkel, yaitu sebuah negeri yang
berada di Aceh.
Dengan demikian jelaslah bahwa,
Abdurrauf penerjemah yang disimpan di Museum Negeri Palu ini, adalah seorang
putra Indonesia yang berasal dari Aceh.
Untuk mengetahui lebih lanjut
tokoh ini, Buya Hamka dalam tulisannya berjudul “Aceh Serambi Mekkah”
menjelaskan itu, Syeikh Abdurrauf sebelum membahas Mufti Besar Kerajaan Aceh
Darussalam di bawah Pimpinan Raja Iskandar Muda Mahkota Alam (1607-1636),
terlebih dahulu belajar agama dapat diakses di Medinah. Gurunya dalam ilmu
Tasawwuf adalah Shafluddin Ahmad Al Dajany Al Qusyasyi (1583-1660) dan Syeikh
Ibrahim Al Kaurany (1616-1689).
Tatkala Abdurrauf menjadi Mufti
Besar mendapingi Iskandar Muda Mahkota Alam yang mengatur Kerajaan Aceh
Darussalam, bertemulah kebesaran Aceh pada abad XVII itu, dalam kejayaan
tentang dunia dan akhirat. Sang raja bijaksana dalam mengendalikan
pemerintahan, sedangkan sang Mufti sangat ahli dalam bidang keagamaan. Oleh
karena itu, rakyat Aceh sangat menghargai Mufti Besar itu, hingga dia digelar
'Syeikh Kuala'.
Setelah diterjemahkan oleh Al-Qur'an
yang bernama Abdurrauf ini, ada yang diajukan yang diajukan Al-Qur'an dan
terjemahannya terbitan Deppag RI berbunyi sebagai berikut: “Terkait dalam
Bahasa Indonesia, maka Al-Qur'an telah diperbarui pada waktu ke XVII oleh Abd.
Rauf Alfansuri, seorang ulama dari Singkel, Aceh, ke dalam Bahasa Melayu.
Bagaimana mungkin terjemahan itu ditinjau dari sudut Bahasa Indonesia modern
belum sempurna, tetapi pekerjaan itu besar jasanya sebagai pekerjaan perintis
jalan ”.
Akhirnya dalam ulasan Buya Hamka
pada kunjungannya merekomendasikan termaktub dalam pengantar “Bacaan Mulia”
karya HB Jassin sebagai berikut: “Yang mula sekali menterjemah Al Qur'an ke
dalam bahasa Melayu bersamaan dengan tafsirnya adalah Syeikh Aminuddin
Abdurrauf bin Ali Alfansury pada saat itu ke XVII ”
Dengan demikian dapat
disimpulkan, meskipun kitab “Al-Qur'anul Karim Terjumanul Mustafid” yang
disimpan di Museum Negeri Palu ini, diterbitkan dalam cetakan baru pada tahun
1934, namun memiliki nilai sejarah yang tinggi, yang telah diterbitkan di XVII
se kali dengan awal masuknya Islam di Tanah Kaili.
Pijakan Pertama Alb. C. Kruyt
Pijakan pertama Alb. C. Kruyt
melakukan perjalanannya di Tanah Kaili mengisahkan, dari Palu jalan raya menuju
ke Selatan, terbentang di sepanjang timur dari dataran itu, melalui Kalavara
dan Sakidi, kemudian ke Kulavi jaraknya 72 Km. Jalan ini melintas Lanschape
Palu dan melalui pula Lanschape Sigi – Biromaru-Dolo, Magau Biromaru tinggal
beberapa tahun yang lalu, Dolo dibuka sendiri sebagai satu Lanschape, pada
tahun 1918 Lanschape Dolo ikut Sigi-Biromaru. Ibu Negeri Dolo berada di bagian
kanan sungai dan daerah yang ikut Dolo bergantung pada bagian kiri sungai. 5
Km. disebelah Selatan Palu. Disediakan jalan menuju Timur dengan belokan salah
satunya ke Biromaru-Vatunonju dan Bora, antara Tulo dan Sidondo dapat dilalui.
Jalan ini merupakan jalur penting karena dapat menghubungkan Ibunegeri dari
Lenschape Sigi-Biromaru dengan Palu.
Pada sungai ini terdapat sebuah
jembatan. Dan Sebagai titik akhir dari dataran itu, sampai di Sakidi. Tempat
ini banyak didiami pendatang yang berasal dari Bugis. Mereka membuat tempat
penumpukkan kopra untuk dibawa ke Palu. Pada kondisi sekarang, tempat Sakidi
dianggap tidak penting lagi.
Dulunya di Sakidi terdapat pasar
yang ramai dikunjungi orang. Penataan pasar sering dilakukan masyarakat
(merupakan tradisi) setempat, ketika akan dikunjungi Gubernumen Belanda. Dalam
tahun 1897 terdapat beberapa pasar sederhana, antara lain di Palu, Biromaru,
Dolo, Sidondo, Kaleke, Bobo, Beka Tenggarava, dan Bulebete yang masuk bagian
Onderafd Palu.
Dalam Onderafd Donggala terdapat
pula pasar serupa, antara lain di Donggala, Kabonga Besar, Loli, Mamboro,
Tavaeli dan Pantoloan. Sapai pada tahun 1930, terdapat 1.800 Pasar.
Dari Palu ada jalan raya ke
Selatan di sebelah barat Sungai Besar. Jalan raya ini, melalui Bulubete. Jika
di tempat ini terdapat jembatan untuk melewati sungai Miu, kenderaan dapat
sampai di Sakidi dan Vuno. Dalam perjalanan, perjalanan biasa yang ditempuh
menuju Kalavara. Demikian pula di sungai Sombe, dibawa perjalanan berisi lumpur
yang dibawa oleh aliran sungai ke darat. Lumpur itu tergenang di daratan,
hingga roda otto tertimbun ditebalnya lumpur.
Sisi lain dari perjalanan ini,
merupakan jalan pendek dari Binangga menuju Timur melalui Tinggede dan Tatanga.
Dari tempat ini kembali lagi, ada pula satu jalan menuju ke Barat, kearah
Donggala. Disini terdapat penyimpanan ledeng udara Palu yang mengalir menuju ke
Selatan, melalui Balaroa dan Taiparanggu.
Sungai Palu terbagi menjadi dua
bagian yang tak sama. Bagian Barat lebih sempit dari bagian Timur. Bagian
pertama keadaannya lebih dari pinggiran pada bagian ke dua. Lebih-lebih pada
bagian Selatan. Bagian pertama tadi, ada banyak sawah-sawah. Jika melewati
bagian Timur, kita dapat melihat pepohonan yang tumbuhnya tidak subur.
Dapat diketahui bahwa, lebih dulu
banyak sawah dikerjakan dari pada sekarang, sebab disetujui sawah-sawah
dibiarkan begitu saja. Disini adalah satu pohon yang disebut Lanu, yang lebih
berguna dimasyarakatnya, semisal daunnya digunakan sebagai atap / barang
anyaman, tangkainya dibuat pagar dan isi dahannnya dapat dimakan. Selain pohon
Lanu juga terdapat pohon kayu api dan kaktus.
Jika keluar dari Bora, kita
melihat pemandangan lain yaitu tanah padang rumput, jalan raya yang terletak jauh
dari Bora-Biromaru dan gunung-gunung dengan panorama indah dari pohon-pohon
kelapa sebagai petunjuk keberadaan kampung-kampung.
Masyarakat lembah Palu, suka
membuat kampung-kampung sebagai tempat bermukim diladang-ladang, menetap dan
menanam pohon kelapa untuk dijadikan mata pencaharian hingga pada
turunan-turunannya.
5 di Lansekap yang diperintah
oleh Magaunya masing-masing. Hal ini terjadi sebelum Pemerintahan Belanda
hadir. Di Ganti Tavaeli, Palu, Bora dan Dolo berada di kerajaan yang dikelola
dengan gelar Magau (Raja). Tiap Kampung memiliki Kepala yang dimiliki dari
bangsawan, bergelar Madika. Di Kulavi dan Koro disebut "Maradeka". Ke
dua kata itu berasal dari bahasa Sangskrit yang artinya dalam bahasa Melayu
“bebas dari perbudakan”.
Pendatang-pendatang yang datang
ke tempat ini, membawa perubahan besar dalam Kebudayaan dan Pemerintahan di
Tanah Kaili. Mereka berasal dari Jawa-Hindu. Ada pula yang berasal dari Luwu
dan Makassar, masuk di daerah ini dari bagian Utara.
Tuan Wigman yang kurang lebih 6 tahun
mempelajari situasi onderafd Palu (1916-1921), membandingkan keadaan di sini
dengan keadaan di Eropa pada abad ke depan, di mana di setiap kota memiliki
Pemerintahan sendiri-sendiri, dan memiliki kebebasan masing-masing (tuan tanah)
. Di onderafd Palu Ada 5 Magau. Hubungan kampung-kampung itu tidak begitu erat,
sehingga bisa terjadi bergantung pada paham.
Kelima Magau memiliki kekuasaan
besar di kampung-kampung lingknya. Biasanya yang menjadi Kepala Kampung adalah
turunan orang-orang pendatang. Mereka mengadakan hubungan perkawinan dengan
masyarakat asli di tempat itu. Seperti yang diketahui, terjadi persaingan
antara Magau Sigi dan Magau Banava. Mereka mengatakan memiliki hubungan
keluarga dengan Saverigading dan ekor Lagaligo, ke duanya adalah pendekar dari
Luwu. Banyak pembahasan tentang ke duanya, diceritakan oleh masyarakat lokal.
Saat saya menyampaikan tentang
keringnya di Palu, dapatkah kita kembali ke dua pahlawan Luwu itu, selalu ada
di Ganti dan muncul kemudian di Sigi, Tavaeli dan Dolo. Berterima kasih pada
Sigi, Palu letak Kerajaannya baik, dapat maju dan berkembang. Masyarakat
dataran tinggi Palu yang berada di lembah Kaili terbagi atas dua kelompok yang
disebabkan oleh keberadaan teluk dan sungai. Orang yang tinggal di bagian barat
ikut pada Magau Palu, Dolo dan Banava, sedangkan daerah Sigi dan Tavaeli
dianggap sebagai daerah musuh.
Pertentangan fisik dulunya
kerapkali terjadi di seberang sungai itu. Sigi dan Tavaeli selalu berpegang
tangan. Namun Dolo yang berkuasa di sebelah barat sungai, selamanya ikut Palu.
Suku kecil Topotara yang menjadi
pemisah. Topotara sekarang mengkombinasikan diri dengan Kavatuna, tempat
berbatu-batu.
Lasoani, Poboya, Tanamodindi dan
Talise, terletak di sebelah Timur Palu. Jika kita memperhatikan sejarahnya,
kita akan melihat manusia-manusia memiliki hubungan dengan Magau di Parigi.
Suku kecil
Sebelum Pemerintahan Belanda
berkuasa, di Sigi berlaku untuk: Baluase, Bangga, Pakuli, Sibalaya, Pevunu,
Raranggonau, Palolo, Kulavi, dan semua tanah yang terkait di Lanschape Selatan
Tavaeli, Napu, Besoa, dan Bada. Juga di tanah-tanah di selat Makassar. Sebelah
Utara Vani mengaku Magau Sigi sebagai Magaunya.
Untuk Dolo diadakan wajib
terhadap: Pesaku, Kaleke, Sibonu, Riio. Dan untuk Palu terhadap: Beka, Sibedi,
Binangga, Tatanga, Boyaoge, Vatusampu dan Pakava. Buat Tavaeli mengikutinya:
Mamboro, Taipa, Kayumalue dan Labuan.
May 10, 2025 | Labels: Kareba, Riwayat, Tutura | 0 Comments
Blog Archive
-
▼
2025
(40)
-
▼
May
(24)
- Wilayah Kerajaan Sejarah Kabupaten Donggala
- Perang SIGI (1905-1908)
- Sejarah Lembah Palu
- BUOL SALING SAPA
- Sejarah Kerajaan BUOL
- Zaman Permulaan Magau dan Islam di Palu Tanah Kaili
- Zaman Sejarah
- Zaman Pra Sejarah
- Zaman Klasik dan Saverigading Di Palu Tanah Kaili
- Sejarah Singkat Kecamatan SIGI BIROMARU
- Sejarah Kota Palu
- Menapaki Jejak Pitu Nggota Ngata Kaili
- Kaili itu Ramah, Tapi Jangan Diusik
- Sejarah Desa WATUNONJU
- Sejarah Desa LOLU
- Sejarah Desa LORU
- Sejarah Singkat Desa NAMO
- Sejarah Terbentuknya Ngata Toro, Kulawi
- Sejarah Desa Jono Oge
- Sejarah Desa Oloboju
- Sejarah Desa Baluase
- TO SILONGA
- Islamisasi Ala Cikoang di Lembah Palu: Peran Sayyi...
- Jejak Diaspora Cikoang di Tawaeli
-
▼
May
(24)
